Klik Play N Enjoy This Songs

Tampilkan postingan dengan label Educations. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Educations. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 September 2013

KUNCI SUKSES VERSI ISLAM


ETOS DAN ETIKA
Oleh: Muhbib Abdul Wahab
www.yusufaruke.blogspot.com
yusuf_fly@yahoo.com
@yusufaruke
       
Etos berasal dari bahasa Yunani: ethos yang berarti: semangat, ruh, dan gairah.
         Sedangkan etika berarti: seperangkat nilai-nilai moral, norma-norma kepatutan dan kepantasan (baik-buruk) dalam berinteraksi sosial.
         Etos kerja = semangat, ruh (yang menjiwai dan menyemangati) kerja.
         Etika kerja = nilai-nilai moral dan norma baik buruk (yang dianggap patut dan pantas) dalam melakukan pekerjaan.
         Etos kerja berkaitan dengan suasana batin/hati; sedangka etika berkaitan dengan performa, sikap dan tindakan yang dilandasi pertimbangan moral dalam bekerja.
Kerja itu Ibadah
         Islam mewajibkan setiap Muslim untuk bekerja, berusaha mencari rezeki yang halal dan baik (thayyib) untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga dan kerabatnya.
         Kerja yang halal merupakan tugas yang diamanahkan oleh Allah kepada setiap Muslim.
         Nabi bersabda: “Barangsiapa bekerja untuk anak isterinya melalui jalan yang halal, maka bagi mereka pahala seperti pahala orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. al-Bukhari)
         Sabda Nabi Saw. lainnya: “Mencari kerja yang halal itu adalah wajib”. (HR. al-Baihaqi).
         Kerja (‘amal, isytighal) pada dasarnya meneladani sifat-sifat Allah. Setiap hari Dia (Allah) itu selalu dalam kesibukan (Mahasibuk) (QS. Arrahman: 29) 
         Sebuah hadits menyebutkan bahwa bekerja adalah jihad fi sabilillah. Sabda Nabi Saw, “Siapa yang bekerja keras untuk mencari nafkah keluarganya, maka ia adalah mujahid fi Sabillah”(HR. Ahmad)
Prinsip-prinsip Etika dalam Bekerja
  1. Bekerja dengan niat Mengabdikan Diri Kepada Allah;
  2. Bekerja dengan ikhlas, cerdas, keras, tuntas, dan memberi rasa puas;
  3. Bekerja dengan Amanah;
  4. Bekerja dengan Tekun dan Profesional;
  5. Bekerja dengan kreatif dan berorientasi pada produktivitas tinggi;
  6. Bekerja dengan semangat kerja sama (teamwork);
  7. Bekerja demi Kebahagiaan umat manusia.
Sketsa Kerja Muhammad Saw.  
         8-11 tahun: mulai menekuni profesi pengembala
         12 tahun: mulai Aktif sebagai Eksportir ke Syam
         17-19 tahun: Menjadi Pengusaha Mandiri
         22 tahun: Profesional Terkenal di Jazirah Arab
         25 tahun: Menikah, Mahar : 20 Ekor Onta & Memimpin Kafilah Dagang ke Mancanegara,
         Menjelang Usia Kenabian: Mendapat Gelar Pengusaha Terpercaya (“Al-Amin”), Tokoh Arbirtrer & Konsultan Dagang Internasional.
Kunci Sukses Nabi dalam Bekerja
         Komitmen kuat pada STAF (Shidq, Tabligh, Amanah, Fathanah).
         Orientasi kerja adalah IBADAH (Ikhlas, Basmah, [Senyum], Akhlaq, Dakwah, Amal, dan Hasil).
         Bekerja dengan semangat mencari rezeki yang halal, bukan semata memperoleh harta.
         Rezeki dalam Islam meliputi: harta, ilmu, kedudukan/jabatan terhormat, persahabatan, kepuasan hati, kepuasan pengguna jasa, dsb.
Aktualisasi STAF
1.     Shidq (Kejujuran)
Nilai Etika
Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Kejujuran
الصِدْق
(Jujur, benar, bersahabat, tidak mendustakan, bersedekah)
  1. Bersikap obyektif
  2. Berpikir positif
  3. Bertutur kata apa adanya
  4. Berbuat sesuai hati nurani
  5. Bekerjasama demi kebaikan
  6. Anti berdusta (berbohong)
  7. Anti manipulasi
  8. Anti inefisiensi
2.     Amanah (Keterpercayaan
Nilai Etika
Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Amanah
  1. Bersikap teguh pendirian dan hati-hati
  2. Berpikir masa depan
  3. Bertutur kata penuh kearifan
  4. Bertindak penuh inisiatif dan tanggung jawab
  5. Berlaku adil dan demokratis
  6. Bersemangat dalam  penegakan disiplin
  7. Menghargai dan memaknai waktu
  8. Anti  penyalahgunaan wewenang/jabatan
  9. Anti  pemborosan
  10. Anti ketidakdisiplinan

3.     Tabligh (Menyampaikan)
4.      
Nilai Etika
Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Tabligh
تبليغ
(sampai, menyampaikan, fasih, komunikatif terbuka)
  1. Bersikap Terbuka
  2. Berpikir Logis
  3. Berkomunikasi persuasif
  4. Bertindak Transparan
  5. Bersemangat dalam amar ma’ruf nahi munkar
  6. Anti permufakatan dan kerjasama dalam rangka kejahatan
  7. Anti ketertutupan 
  8. Anti kolusi 
4. Fathanah (Kecerdasan)
Nilai Etika
Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Fathanah
  1. Bersikap wajar dan simpatik
  2. Berpikir rasional dan proporsional
  3. Bertutur kata lembut dan sopan
  4. Berkarya kreatif
  5. Berjiwa sosial
  6. Bersemangat dalam meraih prestasi dan produktivitas
  7. Anti kebodohan
  8. Anti kemunduran
  9. Anti ketertinggalan
  10. Anti kemiskinan (intelektual, struktural, kultural, sosial dan moral)
Aktualisasi Etos dan Etika Kerja
1.      Berupaya menempatkan: Right man on the right place and in the right time = إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة artinya: “Jika suatu urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”.
2.   Menjaga amanah (Terpercaya, akuntabel, trust) yang diberikan kepadanya. Nabi Saw. Bersabda:إذا ضيعت الأمانة إلى غير أهلها فانتظر الساعة artinya: “Apabila amanah  itu diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”
3.      Kerja harus itqan (tekun, profesional, tuntas) =
  إن الله يحب أحدكم إذا عمل أن يتقنه (رواه البيهقي)
      Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai seseorang jika bekerja ia melakukannya dengan profesional.” (HR. al-Baihaqi)
4.   Tidak melakukan eksploitasi, penzhaliman, perbudakan. Hak-hak diberikan sesuai dengan kewajiban yang dibebankan kepada SDM. Nabi bersabda: اعطوا الأجير أجره قبل أن يجف عرقه (Berikanlah upah/honornya sebelum kering keringatnya.”
5.   Membina relasi sosial dengan baik dan beradab (Mu’amalah hasanah). Nabi Saw.  خالق أو عامل الناس بخلق حسن (Perlakukan/pergauli manusia dengan akhlak yang baik) (HR. Musl.im)
6.   Optimalisasi pencapaian target (tujuan korporasi, institusi), pemanfaatan waktu, dan  disiplin kerja = اغتنم خمسا قبل خمس: حياتك قبل موتك، وصحتك قبل سقمك وفراغك قبل شغلك وشبابك قبل هرمك وغناك قبل فقرك
7.   Penerapan Self control, waskat, dan penuh tanggung jawab dalam bekerja= وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ... + إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا
8.   Berorientasi terbaik (memilih yang terbaik, bekerja dan berprestasi terbaik). Allah berfirman: : هو الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسنكم عملا (Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya). Nabi bersabd: الناس معادن خياركم في الجاهلية خياركم في الإسلام  (Manusia itu ibarat tambang; yang terbaik di masa jahiliyah adalah juga yang terbaik pada masa Islam).
9. Meningkatkan kualitas diri, kapabilitas, dan keahlian dengan banyak belajar dan berlatih demi peningkatan kinerja yang lebih baik. Allah berfirman: إن أحسنتم أحسنتم لأنفسكم وإن أسأتم فلها (Jika kalian berbuat yang terbaik, maka pada hakikatnya kalian berbuat untuk diri kalian sendiri; sebaliknya jika berbuat jahat, maka akibatnya juga menimpa diri kalian sendiri.” (al-Isra’ [17]: 7)
Aplikasi Trilogi: Iman-Ilmu-Amal
         Iman dan amal shalih dalam al-Qur’an pada umumnya disandingkan. Artinya, iman seseorang tidak sempurna jika tidak disertai amal (kinerja) yang baik.
         Iman dapat membuahkan kinerja yang baik, jika dilengkapi dengan ilmu yang memadai.
         Bekerja dapat membuahkan produktivitas dan kreativitas yang bernilai jika dilandasi keyakinan bahwa Allah itu melihat kinerja kita.
         Bekerja pada akhirnya harus dapat menambah dan meningkatkan: iman, ilmu, amal, dan rezeki yang halal dengan aktualisasi STAF tersebut.
         Rasul Saw bersabda “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah” (Hadits Riwayat Ahmad & Ibn Asakir)
Bekerja dengan Manajemen Lebah
v     Nabi SAW bersabda: "Mukmin itu bagaikan lebah. Jika hinggap pada tanaman berbunga, ia memakan sarinya yang baik,  tidak mematahkan maupun merusak yang dihinggapinya." (HR Ahmad, Abu Syaibah, dan Attabarani).
v     Karakteristik Koloni (masyarakat) lebah:
    1.     Bersatu-padu-kompak (Kesatuan, persaudaraan, kebersamaan)
    2.     Bekerjasama, berbagi tugas dan fungsi
    3.     Bekerja keras (maksimal) dan efektif
    4.     Berorientai kepada produktivitas 
    5.     Berorientasi kepada kebersihan dan kesehatan
    6.     Berorientasi kepada masa depan, berbuat untuk memberi manfaat, dan kesejahteraan.
    7.     Tidak merusak lingkungan, tetapi memberi nilai mutualisme pada tumbuhan yang dihinggapi
    8.     Anti mengonsumsi yang tidak baik (yang dikonsumsi lebah adalah sari bunga atau minuman yang manis, bergizi).
    9.     Menempuh jalan Tuhan (taat)
Puasa dan Prestasi Kerja!
         Allah berfirman: "Dan Tuhanmu memberikan ilham kepada lebah: 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS Annahl [16]: 68-69).
          Nabi SAW dan para sahabatnya berhasil memenangi Perang Badr, Perang Tabuk, dan membebaskan kota Mekkah di bulan Ramadhan.
         Para ulama seperti Imam Bukhari dan Imam Syafi’i berhasil menyusun karya-karya besar mereka di bulan Ramadhan.
         Jadi, Ramadhan merupakan bulan berkarya produktif, bukan bulan kemalasan dan kelemesan.
نكتفي بهذا القدر، ونشكركم جميعا على حسن اهتمامكم ومتابعتكم لهذه المناقشة
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 

SEJARAH HIDUP IMAM AL GHAZALI. BAG 2



www.yusufaruke.blogspot.com

Karya-Karyanya*
*Nama karya beliau ini diambil secara ringkas dari kitab Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah, karya Dr. Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud 2/623-625, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/203-204
Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:
Pertama, dalam masalah ushuluddin dan aqidah:
  1. Arba’in Fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.
  2. Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid pertama.
  3. Al Iqtishad Fil I’tiqad.
  4. Tahafut Al Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
  5. Faishal At Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.
Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:
(1) Al Mustashfa Min Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fiqih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar……” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 17 dan 18).
Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 19).
Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.
(2) Mahakun Nadzar.
(3) Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.
(4) Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.
(5) Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.
(6) Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.
(7) Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.
(8) Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329).
Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.
(9) Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.
(10) Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.
(11) Qanun At Ta’wil.
(12) Fadhaih Al Bathiniyah dan Al Qisthas Al Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.
(13) Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al Mu’tashim Billah Al Baghdadi.
(14) Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.
(15) Ar Risalah Alladuniyah.
(16) Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:
Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/334).
Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/339-340).
Imam Subuki dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah (Lihat 6/287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al Mughni An Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.
(17) Al Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.
(18) Al Wasith.
(19) Al Basith.
(20) Al Wajiz.
(21) Al Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/224-227.
Aqidah dan Madzhab Beliau
Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”
Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.
Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.
Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 110).
Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur’an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:
Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.
Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).
Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).
Tetapi perlu diketahui, bahwa pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni Shahih Bukhari dan Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penulis Jawahirul Qur’an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a’lam.”